Setiap makhluk hidup di dunia ini memiliki aspek fisik (fenotipe) yang dikendalikan oleh serangkaian perintah kimiawi. Dalam setiap sel makhluk hidup terdapat inti yang mengandung rangkaian asam kimia deuxyribonucleides (DNA). Setiap sel makhluk hidup memiliki salinan DNA yang sama. Jadi pada hamster A, sel-sel mata memiliki salinan DNA yang persis sama dengan sel-sel kaki, sel-sel telinga, sel-sel rambut, dll. Namun, DNA ini juga menginstruksikan sel-sel tersebut untuk menjadi sel yang spesifik, baik itu sel mata, sel kaki, sel rambut, atau sel lainnya.
DNA semua makhluk hidup disimpan dalam wadah yang disebut kromosom. Setiap kromosom menyimpan DNA yang memiliki fungsi khusus untuk mengatur bentuk fisik tubuh. Jumlah kromosom pada setiap spesies berbeda-beda. Oleh karena itu, tidak semua makhluk hidup dapat melakukan persilangan antar spesies, karena setiap kromosom sperma pasti memiliki pasangan kromosom sel telur yang lain. Sudut Pintar
Sekalipun jumlah kromosomnya sama, belum tentu pernikahan yang berhasil. Seperti kunci dan gembok, pasangan kromosom antara sperma dan sel telur harus identik. Kunci bulat tidak dapat dimasukkan ke dalam kunci datar. Inilah sebabnya mengapa persilangan antar spesies yang memiliki kromosom yang sama tidak selalu berhasil. Kalaupun berhasil, umumnya akan menghasilkan mutasi yang menyebabkan cacat pada keturunan atau kematian pada sang ayah.
Memahami genetika
Genetika adalah cabang biologi yang mempelajari pewarisan organisme dan sub-organisme (seperti virus dan prion). Singkatnya, dapat dikatakan bahwa genetika adalah ilmu yang mempelajari tentang gen dan segala aspeknya. Istilah "genetika" diperkenalkan oleh William Bateson dalam sebuah surat pribadi kepada Adam Chadwick dan digunakan oleh Konferensi Internasional Ketiga tentang Genetika pada tahun 1906.
Dalam hal genetika, DNA memiliki peran / kontribusi yang sangat penting. DNA merupakan materi genetik yang mengontrol sifat dasar makhluk hidup, diekspresikan dalam bentuk polipeptida, walaupun tidak semua protein (dapat dinyatakan sebagai RNA yang memiliki reaksi katalitik, seperti SNRP).
Sejarah perkembangan genetik
Sejarah perkembangan genetika sebagai ilmu pengetahuan dimulai pada akhir abad ke-19 ketika seorang biksu Austria bernama Gregor Johann Mendel mampu melakukan analisis yang cermat dengan interpretasi yang benar dari hasil persilangan eksperimentalnya pada kacang polong (Pisum satifum ). Nyatanya, Mendel bukanlah orang pertama yang melakukan percobaan silang.
Namun, berbeda dengan para pendahulunya yang menganggap setiap individu memiliki karakteristik yang kompleks, Mendel mengamati model pewarisan sifat demi sifat, yang membuatnya lebih mudah untuk diikuti. Kesimpulannya tentang model pewarisan sifat-sifat tersebut kemudian menjadi dasar utama perkembangan genetika sebagai cabang ilmu, dan Mendel diakui sebagai bapak genetika.
Karya Mendel tentang model pewarisan diterbitkan pada tahun 1866 dalam Proceedings of the Brunn Society for Natural History. Namun selama lebih dari 30 tahun tidak ada peneliti lain yang memperhatikannya. Baru pada tahun 1900 tiga ahli botani yang berbeda, Hugo de Vries di Belanda, Carl Correns di Jerman dan Eric von Tschermak-Seysenegg di Austria, melihat bukti keakuratan prinsip Mendel dalam studi mereka masing-masing. Sejak saat itu hingga sekitar pertengahan abad ke-20, berbagai eksperimen berdasarkan prinsip persilangan Mendel mendominasi penelitian di bidang genetika. Ini menandai dimulainya era yang disebut genetika klasik.
Lebih jauh lagi, pada awal abad ke-20, ketika biokimia mulai berkembang sebagai cabang ilmu baru, para ahli genetika tertarik untuk mempelajari lebih dalam tentang sifat materi genetik, terutama sifat biokimianya.
Pada tahun 1920-an dan kemudian 1940-an terungkap bahwa senyawa kimia dalam materi genetik tersebut adalah asam dioksiribonekleat (DNA). Dengan ditemukannya model struktur molekul DNA pada tahun 1953 oleh J.D. Watson dan F.H.C. Crick mengantarkan era baru genetika, yaitu genetika molekuler.
Perkembangan penelitian genetika molekuler terjadi begitu cepat. Jika sains secara umum mengalami penggandaan waktu dalam satu dekade, maka itu hanya dua tahun dalam genetika molekuler. Bahkan, perkembangan yang lebih revolusioner dapat dilihat sejak tahun 1970-an, yaitu sejak teknologi manipulasi molekuler DNA atau teknologi DNA rekombinan dikenal, atau dalam istilah yang lebih populer disebut rekayasa genetika.
Saat ini telah menjadi berita umum ketika organisme seperti domba, babi, dan monyet diperoleh melalui teknik rekayasa genetika yang disebut kloning. Sedangkan seluruh genom pada manusia telah dipetakan atau dikenal dengan Human Genome Project yang diluncurkan pada tahun 1990 dan diharapkan selesai pada tahun 2005. Padahal, pelaksanaan proyek ini sudah berjalan dua tahun lebih cepat dari jadwal.